Naskah Syair Gulung 151, 85 Meter di Ketapang Pecahkan Rekor MURI
METROKALBAR, Ketapang – Acara akbar Festival Syair Gulung Tanah Kayong resmi ditutup oleh Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, pada Sabtu malam (23/05/26) di kawasan Pentas Keraton Matan Tanjungpura.
Festival budaya yang berlangsung sejak 21 hingga 23 Mei 2026 ini menorehkan sejarah gemilang bagi Kalimantan Barat, di mana Kabupaten Ketapang berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui pembentangan naskah Syair Gulung sepanjang 151,85 meter.
Pencapaian ini juga bukan sekadar angka atau simbol semata, melainkan manifestasi nyata dari kebersamaan luhur antara pemerintah daerah, para budayawan, pelajar, dan seluruh lapisan masyarakat dalam merawat akar budaya yang menjadi jati diri Tanah Kayong.
Rekor ini sekaligus menjadi momentum strategis untuk menjaga, melestarikan, dan mengangkat tradisi lisan khas Melayu Ketapang ke kancah nasional.
Dalam sambutan penutupannya, Bupati Alexander Wilyo menegaskan makna mendalam di balik warisan Syair Gulung.
Menurutnya, karya ini bukanlah sekadar untaian kata-kata indah yang mempesona, melainkan wadah agung yang menyimpan pesan moral, catatan sejarah, nasihat kehidupan, serta nilai persatuan yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.
“Syair Gulung bukan hanya rangkaian kata-kata indah, tetapi juga menyimpan pesan moral, sejarah, nasihat kehidupan, serta nilai persatuan yang diwariskan turun-temurun dalam budaya Melayu,” tegas Bupati.
Lebih lanjut, sebut Bupati, Keberhasilan pelaksanaan festival tahun ini didukung oleh empat pilar utama yang menjadi kekuatan besar dalam upaya pelestarian budaya daerah. Pertama, adalah pengakuan nasional lewat Rekor MURI, yang menjadikan tradisi lokal tampil dan diakui keberadaannya di tingkat tertinggi bangsa.
Kedua, penguatan identitas dan nilai luhur, di mana di tengah derasnya arus zaman dan kemajuan teknologi, Syair Gulung hadir mengingatkan kembali pentingnya sopan santun, kebersamaan, dan kecintaan pada budaya sendiri.
Ketiga, terciptanya regenerasi lintas generasi. Pelibatan aktif para budayawan, pelajar, dan pemuda dalam setiap rangkaian kegiatan menjadi jaminan bahwa kekayaan tradisi ini akan terus hidup, berkelanjutan, dan tidak akan hilang ditelan perubahan waktu.
Keempat, penguatan ekonomi kreatif dan pariwisata. Diharapkan kegiatan ini menjadi agenda tahunan berskala nasional yang mampu menggairahkan perekonomian masyarakat sekaligus menjadi daya tarik utama wisatawan untuk berkunjung ke Ketapang.
Terpantau dilapangan, antusiasme luar biasa dari masyarakat yang memadati lokasi acara, membuktikan bahwa rasa cinta dan kepedulian terhadap warisan nenek moyang masih tumbuh subur dan menjadi energi penggerak yang kuat bagi identitas daerah.
Di penghujung acara, Bupati Alexander Wilyo menyampaikan harapan besarnya agar pencapaian ini menjadi titik tolak semangat baru.
Ia menegaskan bahwa berakhirnya rangkaian festival bukanlah akhir dari perjalanan panjang pelestarian budaya, melainkan awal dari langkah yang lebih luas dan kokoh.
“Berakhirnya festival ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal semangat baru untuk terus menjaga dan memperkenalkan budaya Melayu Tanah Kayong kepada generasi mendatang,” tutupnya.









