BBM Langka: Mahasiswa Demo Serukan Enam Tuntutan, Tak Ada Satupun Anggota DPRD Hadir
METROKALBAR, Ketapang – Gelombang kegelisahan masyarakat Ketapang atas kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM ) akhirnya bergerak dari antrean panjang di SPBU hingga ke halaman Kantor Bupati Ketapang
Puluhan mahasiswa turun ke jalan Jumat (31/7/2026), membawa suara ribuan warga yang sehari-hari terhambat aktivitasnya demi setetes bahan bakar.
Aksi ini bukan sekadar protes, melainkan teguran keras bahwa persoalan distribusi BBM tidak boleh dibiarkan menjadi luka yang berlarut-larut.
Koordinator Lapangan, Agus Haryandi, menegaskan kesulitan yang dirasakan masyarakat sudah meluas hingga melumpuhkan mata pencaharian.
“Fakta di lapangan berbicara sendiri: antrean tak kunjung usai, harga di luar aturan menjulang tinggi, dan ini dirasakan seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Melalui aksi ini, mahasiswa merumuskan enam tuntutan terukur yang menyasar perbaikan kebijakan, pengawasan, hingga transparansi:
1. Evaluasi menyeluruh efektivitas anggaran Program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa;
2. Langkah nyata menjaga stabilitas nilai tukar rupiah;
3. Pengawasan ketat dan penindakan tegas terhadap penimbunan serta penyimpangan distribusi;
4. Jaminan pasokan berkelanjutan antara Pemkab Ketapang dan Pertamina;
5. Tegaknya Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 secara konsisten;
6. Jadwal penyelesaian yang jelas serta evaluasi terbuka bagi publik.
Di tengah tekad massa menyuarakan aspirasi, satu fakta menyisakan tanda tanya, ketidakhadiran seluruh anggota DPRD Kabupaten Ketapang. Padahal undangan telah disampaikan sebelumnya.
“Kami sangat menyayangkan hal ini. Tak ada satu pun wakil rakyat yang sudi hadir mendengarkan langsung. Ke mana mereka saat rakyatnya bersusah payah mengantre BBM?” tandas Agus dengan kecewa.
Menurutnya, kehadiran legislatif sangat krusial dalam urusan hajat hidup orang banyak. “Kami datang bukan hanya untuk menuntut, tetapi mencari solusi bersama. Ketidakhadiran ini makin mempertanyakan di mana letak kepedulian mereka terhadap konstituen,” tambahnya.
Di penghujung aksi, mahasiswa menegaskan komitmen mereka tak berhenti di sini. Selama persoalan belum tuntas dan rakyat masih menjerit, suara kami akan terus bergema hingga ada perubahan









