Sekilas Info

Merasa Dibohongi,Warga 4 Desa Kecamatan Tumbang Titi Sweeping Ratusan TKA PT.SRM

Warga 4 Desa di Kecanatan Tumbang Titi sweeping Tenaga Kerja Asing PT.SRM

Ketapang, Metrokalbar.com - Ribuan warga 4 Desa di Kecamatan Tumbang Titi (17/09/2020) siang, melakukan sweping. Mereka mengamuk dengan merusak Camp-camp dan Kantor PT.SRM.yang terletak di Dusun Muatan Batu, Desa Nanga Kelampai, Kecamatan Tumbang Titi.

Kedatangan warga empat desa yakni Kelampai, Jungkal, Pemuatan Jaya dan Segar Wangi lantaran dipicu tidak terima adanya spanduk yang mengatasnamakan warga empat desa mendukung kembali perusahan beraktivitas yang dipasang oleh oknum masyarakat di area PT SRM.

Diketahui spanduk mengatasnamakan masyarakat tersebut berbunyikan dukungan warga empat desa atas pengoperasian kembali perusahaan yang sempat berhenti usai didemo ratusan masyarakat pada akhir bulan agustus lalu.

Dari pantauan, masyarakat yang merasa kesal merangsek masuk secara paksa ke dalam perusahaan dengan merusak pintu pagar gerbang perusahan. Bahkan massa yang kesal mencoba mematikan mesin tambang yang dioperasikan kembali oleh perusahaan.

Keributan juga tak dapat dielakkan, sejumlah massa lansung melakukan perusakan terhadap bangunan camp-camp yang ditempati ratusan TKA dan sejumlah barang milik TKA dan perusahaan.

Bahkan beberapa orang dari ratusan TKA yang ada di perusahaan sempat menjadi bulan-bulanan warga dengan dipukuli hingga berdarah, dan ada juga TKA yang mencoba melarikan diri ke dalam hutan.

Suasana mencekampun tak dapat dielakkan, massa yang tersulut emosi kemudian melakukan sweping ke dalam perusahaan dan barak karyawan dan semakin memanas ketika menemukan ratusan Tenaga Kerja Asing (TKA) yang berada dalam camp karyawan.

Salah satu TKA yang kedapatan di dalam camp nyaris menjadi amukan warga.

Pihak kepolisian yang berada di lokasi tidak dapat berbuat banyak saat massa merusak bangunan camp baik dengan memukul pintu, jendela hingga memecahkan kaca bangunan.

Selanjutnya demi keamanan para ratusan TKA pihak kepolisian melakukan pengamanan mengeluarkan mereka dari area perusahaan dengan menggunakan 4 unit truk.

Tokoh Masyarakat Desa Segar Wangi Tumbang Titi, Rudi mengatakan, kejadian keributan antara masyarakat di PT SRM dipicu karena ketersinggungan warga yang namanya desa mereka dicatut perusahaan mendukung pengoperasional kembali yang ditulis perusahaan di dalam sebuah spanduk yang terpasang di sejumlah pagar perusahaan.

“Kejadiannya sekitar pukul 11.30 WIB, sejumlah masyarakat dari beberapa desa mendatangi perusahaan, sewaktu mesin peroduksi hidup,” ungkapnya.

Menurutnya jika warga merasa kesal karena mereka dijadikan alat seolah mendukung pengoperasionalan kembali perusahaan setelah sempat adanya kesepakatan pada Agustus lalu mengenai penghentian aktivitas perusahaan selama belum adanya kepastian penyelesaian persoalan sengketa lahan.

“Makanya masyarakat protes, dan diketahui juga ada oknum perusahaan meminta tanda tangan dukungan kepada masyarakat yang mana 1 tanda tangan dihargai 100 ribu yang katanya merupakan bantuan Covid. Namun nyatakan digunakan seolah sebagai bentuk dukungan, masyarakat merasa dibohongi,” terangnya.

Untuk itu, kedatangan masyarakat hendak mematikan mesin perusahaan malah menemukan ratusan Tenaga Kerja Asing (TKA) yang berada di area pabrik atau barak-barak karyawan.

“Kami mempertanyakan apakah TKA mereka ada izinnya, sebab setau kami TKA hanya puluhan tapi faktanya ada ratusan,” sebutnya.

Sementara itu, salah satu ahli waris pemilik lahan, Imran menegaskan sampai saat ini persoalan ganti rugi lahan belum diselesaikan perusahaan. Sehingga pihaknya menyayangkan perusahaan yang kembali mengingkari janji dengan mengoperasionalkan kembali mesin tambang.

“Padahal kesepakatannya tidak ada aktivitas selama persoalan belum selesai. Soal masyarakat ribut di sana saya tidak tahu pasti, tapi saya dapat informasinya memang benar kejadiannya hari ini,” akunya.

Untuk itu, Imran meminta perusahaan agar tidak mengingkari janjinya serta tidak mengatasnamakan masyarakat untuk berlindung dan mengaktifkan perusahaan.

Sementara itu pihak Polres Ketapang atas kejadian tersebut belum bisa memberi keterangan resmi.

Penulis : Budi

Editor : Redaksi

Penulis:

Baca Juga