8 Orangutan Korban Karhutla di Ketapang Dilepasliarkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu
METROKALBAR, Ketapang – Setelah melarikan diri dari hutan yang terbakar dan terjebak di antara perkebunan warga, delapan ekor orangutan Kalimantan akhirnya mendapatkan rumah baru untuk hidup bebas.
Melalui upaya translokasi gabungan, satwa‑satwa penyintas kebakaran hutan dan lahan, mereka dilepaskan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang, pada Jumat (9/1/26).
Kedelapan orangutan tersebut terdiri dari tiga pasangan induk‑anak serta dua jantan remaja. Mereka diselamatkan secara bertahap sejak Agustus hingga September 2026 dari sejumlah lokasi terdampak karhutla di Ketapang dan Kayong Utara.
Sebagian besar mereka terpaksa keluar dari hutan setelah api menghancurkan tempat tinggal dan sumber makan mereka; ada yang terisolasi di petakan kecil di tengah perkebunan kelapa sawit, ada pula yang bertahan di kebun kelapa dan karet milik warga.
Satu kisah yang menyentuh, yaitu pada keluarga Mama Man dan bayinya Man dari Desa Tempurukan. Selama berbulan‑bulan mereka bertahan di perbatasan hutan dan perkebunan, sebelum ditemukan dan dievakuasi pada 3 September 2026 ketika asap dan api semakin mendekat.
Ada juga keluarga Mama Nopi beserta dua remaja Naufal dan Nopan dari Kayong Utara, serta pasangan Mama Lifa dan Lifa yang hanya bisa bertahan di gugusan pohon akasia seluas sekitar 400 meter persegi.
Sebelum dilepaskan, semua orangutan menjalani perawatan medis dan pengamatan di Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI, Sungai Awan.
Setelah dinyatakan sehat dan masih menunjukkan perilaku liar, mereka ditempatkan dalam kandang khusus untuk melakukan perjalanan panjang: selama enam jam di jalan darat dan satu jam menyusuri sungai menuju titik pelepasan.
Sepanjang perjalanan, dokter hewan terus memantau kondisi mereka, sementara kandang dilengkapi pelampung demi keamanan saat melintasi aliran sungai.
Hutan Lindung Batu Nyambu seluas 23.000 hektar dipilih sebagai rumah baru. Kawasan ini masih relatif aman dari kebakaran, memiliki banyak pohon pakan, sumber air alami, serta terhubung dengan jaringan hutan dalam lanskap Arabella‑Schwaner sehingga memberi ruang jelajah yang luas.
“Kami memberi mereka kesempatan baru, tapi hutan‑hutan asal mereka masih terancam api. Masih ada puluhan orangutan lain yang sedang dirawat karena luka bakar, kurang gizi dan penyakit akibat karhutla,” ujar Direktur Operasional YIARI, Argitoeranting.
CEO YIARI, Karmele Llano Sánchez juga menyampaikan rasa harunya: “Melihat mereka kembali masuk ke pepohonan, menjadi momen yang menyentuh hati. Namun ini langkah terpaksa, karena hutan tempat mereka tinggal sebelumnya sudah hancur. Perlindungan hutan yang masih ada tetap menjadi kunci masa depan orangutan.”ujarnya.
Sementara itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane mencatat bahwa sejak Agustus hingga awal Oktober 2026, tim gabungan telah menyelamatkan 46 ekor orangutan dari ancaman karhutla.
“Translokasi kali ini menjadi pelepasan pertama bagi kelompok penyintas api ke kawasan hutan yang aman. Kepala KPH Ketapang Utara, Ya’ Suharnoto berharap ke depannya patroli dan penanaman pohon pakan dapat diperkuat untuk menjaga kelangsungan hidup orangutan di Batu Nyambu.” Pungkasnya.
Ketika pintu kandang terbuka satu per satu di tengah hutan, para orangutan bergerak perlahan menuju rumah baru mereka. Momen itu menjadi harapan sekaligus pengingat, bahwa masih banyak rumah hutan yang harus dilindungi agar tidak ada lagi orangutan yang harus kehilangan tempat tinggalnya akibat kebakaran.










