Maulid Nabi di Tanjung Pura, Bupati Ketapang Ajak Masyarakat Rawat Persaudaraan di Tengah Keberagaman
METROKALBAR, Ketapang – Bupati Ketapang Alexander Wilyo, menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M yang diinisiasi oleh Pondok Pesantren ( Ponpes ) Hidayaturrahman di Komplek Rumah Singgah Hidayaturrahman Kampus 02 Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, pada Minggu (11/10/2026).
Kehadiran Bupati disambut hangat oleh masyarakat dan para undangan. Peringatan Maulid Nabi kali ini diisi tausiah oleh penceramah dari Kota Pontianak, Al-Habib Muhammad Syafie Syahab.
Dalam tausiyahnya, Al‑Habib Muhammad Syafei Syahab, mengajak jamaah meneladani keluhuran akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di tengah keberagaman.
Sejalan dengan tausiyah Al‑Habib Muhammad Syafei Syahab, Bupati Ketapang Alexander Wilyo menyampaikan bahwa Rasulullah SAW diutus guna menyempurnakan akhlak manusia serta menebarkan kasih sayang ke seluruh alam.
Menurutnya, Nilai‑nilai keteladanan tersebut seharusnya menjadi pedoman membangun kehidupan masyarakat yang rukun, saling menghormati dan peduli satu sama lain.
Ia mengingatkan pentingnya prinsip lita’arafu, yaitu saling mengenal dan memahami di tengah perbedaan suku, agama, budaya dan adat istiadat. Keberagaman bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekuatan yang dapat menyatukan masyarakat untuk saling melengkapi dan mempererat persaudaraan.
“Inilah esensi dari lita’arafu: saling mengenal, saling memahami, dan saling menyayangi di tengah keberagaman suku bangsa dan adat istiadat tanpa membeda‑bedakan satu sama lain. Sebagaimana pepatah orang‑tua, banyak kawan banyak rezeki. Perbedaan seharusnya mendekatkan kita, bukan menjadi alasan bertikai apalagi bermusuhan,” ujarnya.
Bupati juga menegaskan, bahwa ia adalah pemimpin bagi seluruh warga Ketapang tanpa memandang latar belakang suku, agama, kelompok maupun golongan. Ia berkomitmen menjadi pemimpin yang adil, memberikan ruang setara dan mengayomi semua elemen masyarakat tanpa diskriminasi.
Lebih lanjut, keberagaman merupakan kekayaan daerah yang harus dijaga bersama. Persatuan dan keadilan menjadi fondasi utama pembangunan agar manfaatnya dapat dirasakan merata oleh seluruh masyarakat.
Selain itu, Bupati turut menjelaskan bahwa Pemerintah daerah harus hadir untuk semua kalangan, mendengarkan aspirasi, menghormati perbedaan, serta membuka kesempatan partisipasi warga dalam pembangunan Kabupaten Ketapang.
“Ketapang adalah rumah besar kita semua, tempat hidup masyarakat dengan beragam suku, agama, budaya, adat istiadat, kelompok dan golongan. Rumah besar ini harus kita jaga, rawat dengan kepedulian, dan bangun bersama dengan semangat persatuan serta gotong‑royong,” tutup Alexander Wilyo.










