Dalih Kedatangan Ketum PWI Pusat, Kundori Minta Dana ke Pengurus Daerah
METROKALBAR, Pontianak – Selasa, 9 Juni 2026 seharusnya menjadi hari yang khidmat bagi para jurnalis di Kalimantan Barat. Hari itu, Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) akan digelar. Kegiatan itu rencananya menghadirkan Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir untuk membuka acara.
Namun, di balik persiapan tersebut, sebuah aroma tidak sedap menyeruak dari balik layar gawai para pengurus daerah. Sebab, beberapa hari terakhir, layar ponsel sejumlah pengurus Kelompok Kerja (Pokja) PWI di tingkat kabupaten mendadak menyala.
Nama Kundori, Ketua PWI Kalimantan Barat, muncul di sana. Bukan untuk memberikan arahan jurnalistik, melainkan sebuah todongan halus yang dibungkus dengan alasan. Yaitu kedatangan sang ketua umum dari Jakarta.
Kabar itu berembus cepat. Kundori diduga bergerilya, menghubungi para pengurus daerah satu per satu di luar. Misinya tunggal, meminta bantuan uang tunai berkisar antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.
Alasannya klise, untuk membelikan tiket pesawat sekaligus menjadi “uang sango” atau uang saku bagi Akhmad Munir selama berada di Pontianak.
“Dia bilang uang itu untuk membeli tiket Ketua Umum PWI yang akan berkunjung ke Kota Pontianak,” ungkap seorang anggota PWI di Kabupaten Kapuas Hulu dengan nada getir. Demi keselamatan profesinya, ia terpaksa meminta identitasnya dirahasiakan.
Hal senada juga dialami oleh pengurus di kabupaten lain. Modusnya serupa, panggilan telepon langsung dari sang ketua yang meminta dicarikan dana segar dengan dalih menyambut pejabat pusat.
“Kemarin Kundori ada telpon saya. Dia minta carikan dana. Alasannya karena ada Ketua Umum PWI Pusat mau turun ke Pontianak dalam rangka kegiatan OKK,” cetus Anggota PWI Kalbar yang identitasnya juga minta dirahasiakan.
Perlawanan Daerah dan Bantahan Sang Ketua
Kali ini, mentalitas “asal bapak senang” itu membentur dinding tebal. Sikap acuh dan perlawanan muncul. Para pengurus Pokja di daerah secara tegas menolak untuk meladeni permintaan tersebut.
Kemarahan mereka beralasan. Organisasi yang seharusnya menjadi benteng etika profesi ini, justru sedang menjadi sorotan negatif akibat diterpa isu memalukan. Tidak lain adalah “skandal dugaan proposal fiktif yang hingga kini masih menjadi bola liar”.
Parahnya, ketika organisasi belum bersih dari coretan hitam masa lalu, para pengurus daerah justru kembali dibebani iuran yang tidak masuk akal. Kedatangan Ketua Umum PWI Pusat dijadikan alasan pungutan biaya.
Di sela ramainya isu permintaan bantuan dana tersebut, Ketua Umum PWI Kalbar, Kundori menyangkal kabar itu. Secara tegas menyebut isu yang beredar tidak benar.
Bantahan Kundori tertulis jelas saat dikonfirmasi awak media Jumat 5 Juni 2026 malam. Dua pertanyaan mendasar dikirim ke ponselnya. Tanpa menjawab salam, kundori langsung merespon dengan kata “Tidak Benar”.
“Poin dua tidak benar. Tidak ada,” jawab Kundori merespon pertanyaan soal kebenaran informasi mengenai patungan Pokja PWI Daerah untuk tiket dan saku Ketum DPP PWI.









