Dapur Bekas Sarang Walet di KKU Tetap Beroperasi, Meski Pernah Sebabkan Siswa Keracunan
METROKALBAR, Kayong Utara – Sebuah bangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Telok Melano, Kabupaten Kayong Utara, ternyata menempati gedung bekas sarang burung walet.
Dapur Makanan Bergizi (MBG) ini kini menjadi sorotan, apalagi sebelumnya pernah menyajikan menu yang diduga menyebabkan sembilan siswa SMP PGRI Pulau Kumbang mengalami keracunan.
Dapur tersebut terletak di Jalan Teluk Melano, Teluk Batang, tidak jauh dari Pasar Melano, dan dikelola di bawah naungan Yayasan Kayong Mitra Sejahtera.
Hasil pengamatan menunjukkan gedung SPPG ini berupa ruko dua lantai. Namun, di bagian belakang lantai dua terdapat bangunan tambahan yang dulunya difungsikan sebagai sarang walet. Di sisi kiri dan belakang bangunan terlihat lubang berukuran sekitar 40 x 40 sentimeter, yang diduga menjadi tempat keluar masuk burung walet.
Jejak sebagai bekas sarang walet masih terlihat jelas pada dinding gedung, yang dipenuhi pipa paralon menjorok keluar sebagai saluran sirkulasi udara, ciri khas bangunan sarang burung walet. Meskipun sudah tidak digunakan lagi, potensi risiko terhadap kebersihan dan keamanan pangan tetap dinilai ada.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa setiap dapur SPPG wajib memenuhi standar kebersihan dan pedoman teknis yang ditetapkan BGN. Standar keamanan pangan tidak dapat dikompromikan, terlebih dengan adanya risiko pencemaran dari bekas aktivitas sarang walet di atasnya.
“Dapur yang dulunya berfungsi sebagai sarang burung walet tetap memiliki potensi risiko dari sisi sanitasi,” ujarnya dalam keterangan pers.
Sebelumnya, dapur ini pernah menyajikan menu berupa telur, tumis kol, dan tahu goreng. Menu inilah yang diduga menjadi penyebab keracunan pada sembilan siswa SMP PGRI Pulau Kumbang pada 29 September tahun lalu.
Kepala Puskesmas Teluk Melano, Azwar, membenarkan peristiwa tersebut. Para siswa datang secara berurutan mulai pukul 09.25 WIB dengan keluhan yang sama.
“Mereka mengeluh sakit perut, mual, hingga muntah. Berdasarkan keterangan awal, makanan yang dikonsumsi adalah telur, tumis kol, dan tahu goreng dari program MBG,” jelas Azwar.
Kondisi dapur ini menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Bagaimana mungkin bangunan bekas sarang walet dapat lolos verifikasi dan diizinkan beroperasi sebagai dapur MBG, padahal tidak ada perbaikan atau renovasi menyeluruh yang dilakukan.
“Seolah dapur ini dikelola oleh pihak yang kebal hukum dan memiliki pengaruh kuat. Padahal sudah pernah terlibat kasus keracunan massal, namun tetap beroperasi tanpa ada tindakan penangguhan. Mengapa bangunan bekas sarang walet yang pernah diduga menyajikan makanan tidak layak konsumsi masih diizinkan berjalan?” tanya Jakaria Irawan dari LBH Kapuas Raya Indonesia.
Sementara itu, Koordinator Wilayah BGN Kayong Utara, Adi Afrianto, mengaku telah berupaya meminta keterangan terkait dapur tersebut, namun upaya komunikasi melalui pesan maupun panggilan telepon selalu diabaikan oleh pengelola.









